Teheran Ancam Anggap Musuh Negara yang Ikut Perang Ekonomi Amerika Serikat
Iran mengancam akan menganggap sebagai musuh dan membalas negara mana pun yang bergabung dalam perang ekonomi Amerika Serikat melawannya.
Iran memperingatkan negara-negara di dunia agar tidak bergabung dalam perang ekonomi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS). Teheran menegaskan bahwa setiap negara yang turut serta menjatuhkan pembatasan atau sanksi ekonomi terhadap Iran akan dianggap sebagai musuh dan berisiko menghadapi tindakan balasan.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melalui siaran televisi pemerintah IRIB. Rezaei menjelaskan bahwa strategi Iran mencakup tiga tahap, dimulai dengan perundingan untuk meminta negara-negara terkait mengambil jarak dari Washington. Namun, jika perundingan tersebut tidak membuahkan hasil, Iran menegaskan akan menyasar kepentingan negara yang terlibat.
Selain itu, Rezaei memperingatkan bahwa jika sanksi ekonomi dijatuhkan, Iran tidak hanya menargetkan pangkalan militer tetapi juga perusahaan minyak dan aset ekonomi AS di sekitar wilayah Iran maupun di tempat lain. Ia turut memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa konfrontasi dapat berubah bagaikan gempa bumi jika langkah ekonomi terhadap Iran terus berlanjut.
Di sisi lain, AS terus mendesak negara-negara sekutu dan mitranya untuk mengisolasi ekonomi Iran. Menerima ajakan tersebut, Uni Emirat Arab mengumumkan penangguhan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Teheran. Sementara itu, China menolak inisiatif AS karena menilai sanksi tidak akan menyelesaikan konflik, dan Mesir mendesak kedua pihak agar kembali ke jalur diplomasi guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung mendekati bulan keenam.